Autisme

Autisme

Autisme adalah gangguan perkembangan kompleks pada fungsi otak yang disertai dengan defisit intelektual dan perilaku dalam rentang dan keparahan yang luas. Autisme dimanifestasikan selama masa bayi dan awal masa kanak-kanak terutama sejak usia 18-30 bulan. Autisme terjadi pada 1:2500 anak, sekitar empat kali lebih sering pada lelaki dibanding perempuan (meskipun perempuan biasanya terkena lebih parah) dan tidak berhubungan dengan tingkat sosial ekonomi, ras atau gaya hidup orang tua.

Penyebab autis adalah gangguan perkembangan dan fungsi susunan saraf pusat yang menyebabkan gangguan fungsi otak, terutama pada fungsi mengendalikan pikiran, pemahaman dan komunikasi dengan orang lain. Gangguan pertumbuhan sel otak ini terjadi pada saat kehamilan 3 bulan pertama. Kira-kira 60% anak autis mempunyai IQ di bawah 50, sedangkan sebanyak 20% antara 50-70 dan hanya 20% yang mempunyai IQ lebih dari 70.

Anak autis tidak mempunyai banyak masalah medis yang perlu dipertimbangkan (kecuali penderita autis yang mengalami epilepsi) namun pada umumnya tetap mengalami penderitaan dalam kondisi yang tidak normal.

Para ilmuwan masih mencoba memahami bagaimana dan mengapa hal ini dapat terjadi. Penyebab autisme belum dapat dipahami dengan pasti. Para ilmuwan menemukan adanya problem kompleks neurobiologis (biologi otak) yang berbasis genetika seperti halnya pada kondisi lain yang disebabkan oleh adanya kelainna pada kromosom yang diwarisi seorang anak.

Sementara beberapa studi lain menduga autisme timbul karena berbagai penyebab, termasuk :

  • Alergi makanan
  • Akibat pemberian vaksin tertentu
  • Adanya penumpukan ragi (yeast) dalam saluran pencernaan
  • Terpapar racun-racun dari lingkungan

Kebanyakan anak-anak autisme juga mengalami cacat mental, tetapi dalam tingkat yang berbeda-beda. Dalam kemampuan koordinasi mata dengan tangan, mereka tak ada masalah bahkan terkadang mereka lebih baik dalam aspek tersebut dibandingkan dengan kemampuan lain.

Mereka mungkin tidak memiliki kemampuan dalam bertutur kata dan hanya mengeluarkan bunyi-bunyi atau meniru apa yang dikatakan orang lain. Mereka juga tidak suka disentuh ataupun berhubungan dengan orang lain dan selalu bersanding pada orang yang sudah dikenalnya saja.

Penyebab sebenarnya dari autisme tidak diketahui tetapi beberapa teori terakhir mengatakan bahwa faktor gentik berpengaruh besar terhadap keadaan autis pada anak-anak. Bayi yang dilahirkan kembar diketahui berkemnungkinan mengalami gangguan autis.

Selain itu pengaruh virus yang diidap oleh ibu semasa hamil, seperti rubela, toxo, herpes atau pola makan yang tidak baik, pendarahan, keracunan makanan, juga mempengaruhi pertumbuhan sel otak yang dapat menyebabkan fungsi otak bayi dalam kandungan terganggu, terutama dalam hal pemahaman, komunikasi dan interaksi.

Beberapa faktor lainnya ditemukan, saat ini ditemukan bahwa penyebab autis adalah masalah pencernaan. Lebih dari 60% anak-anak autis mempunyai sistem pencernaan yang kurang baik. Makanan seperti susu hewani dan tepung gandum tidak dapat dicerna dengan baik dan ini menyebabkan protein dalam makanan ini tidak berubah menjadi asam amino atau pepton yaitu bentuk hasil pencernaan yang akhirnya dibuang melalui air kencing.

Untuk anak-anak autistik, pepton ini diserap kembali oleh tubuh, memasuki aliran darah, diteruskan ke otak dan diubah menjadi morfin yaitu casomorfin dan gliadrofin yang merusak sel-sel otak dan menyebabkan fungsi otak terganggu. Fungsi otak yang terganggu adalah fungsi kognitif, komunikasi reseptif, konsentrasi dan tingkah laku.

Hingga saat ini penyebabnya belum diketahui secara pasti, namun penderita autis pada anak laki-laki ternyaat empat kali lebih banyak dari anak perempuan. Para ahli berpendapat, autisme adalah suatu kondisi seseorang sejak lahir ataupun saat masa balita, yang membuat dirinya tidak dapat membentuk hubungan sosial atau komunikasi yang normal. Akibatnya anak tersebut terisolasi dari manusia lain dan masuk ke dalam dunia repetitif, aktivitas dan minat yang obsesif.

Karakteristik anak dengan autisme adalah adanya gangguan dalam bidan interaksi sosial, komunikasi (bahasa dan bicara), perilaku emosi dan pola bermain, gangguan sensoris, dan perkembangan terlambat atau tidak normal. Gejala ini mulai tampak sejak lahir atau saat masih kecil; biasanya sebelum anak berusia 3 tahun.

Dulu, orang menduga bahwa autisme disebabkan oleh cat genetika. Namun cacat genetika tidak mungkin terjadi dalam skala demikian besar dan dalam waktu yang cukup singkat. Karena itu para peneliti sepakat bahwa ada banyak kemungkinan penyebab autisme. Salah satunya adalah karena pengaruh vaksin yang mengandung thimerosal, zat pengawet yang di gunakan dalam berbagai vaksin.

Yang membuat orangtua menolak pemberian imunisasi karena mendapatan informasi bahwa beberapa jenis imunisasi khususnya yang mengandung thimerosal dapat mengakibatkan autisme. Akibatnya, anak tidak mendapatkan perlindungan imunisasi untuk terhindar dari penyakit-penyakit yang justru lebih berbahaya, seperti hepatutus B, difteri, tetanus, pertusis, TBC dan sebagainya. Banyak penelitian membuktikan bahwa autisme tidak berkaitan dengan thimerosal, meskipun beberapa teori, penelitian, dan kesaksisan yang menunjukkan bahwa autisme berhubungan dengan thimerosal.

Memang, faktor penyebab autis pada anak belum diketahui dengan pasti. Sebagian ilmuwan berpendapat autism terjadi karena faktor genetika. Tetapi, mengetahui penyebab autis pasti dari autism memang sulit kaena otak manusia itu sangat rumit. Otak berisi lebih dari 100 miliar sel saraf yang disebut neuron. Setiap neuron dapat memiliki ratusann atau ribuan sambungan yang membawa pesan ke sel saraf lain di orak dan tubuh. Dengan adanya sambungan-sambungan dan zat kimia pembawa pesan (neurotransmitter) itulah kita dapat melihat, merasakan , bergerak, mengingat dan bekerja sama seperti seharusnya. Karena pada beberapa alasan, beberapa sel dan sambungan di otak anak dengan autism, terutama pada wilayah yang mengatur komunikasi, emosi, dan indrawi- tidak berkembang dengan baik atau bahkan rusak.

Para ilmuwan masih mencoba memahami bagaimana dan mengapa hal ini terjadi. Faktor penyebab autis pada anak belum dapat dipahami dengan pasti. Para ilmuwan menemukan adanya problem kompleks neurobiologis (biologi otak) yang berbasis genetika, seperti halnya pada kondisi lain yang disebabkan oleh adanya kelainan pada kromosom yang diwarisi seorang anak.

Sementara beberapa studi lain menduga faktor penyebab autis pada anak timbul karena beberapa hal, termasuk :

  • Alergi makanan
  • Akibat pemberian vaksin tertentu
  • Adanya penumpukkan ragi (yeast) dalam saluran pencernaan dan
  • Terpapar racun-racun dari lingkaran.

Tetapi teori-teori tersebut belum dapat dibuktikan secara ilmiah. Penelitian terkini membuktikan bahwa tidak ada hubungan antara pemberian vaksin dan timbulnya penyakit autis. Penting juga untuk ingat bahwa autism timbul bukan karena parenting yang buruk atau karena pengalaman traumatis. Yang dilakukan adalah memastkan apakah seorang anak telah mengidap autism itu tidak mudah. Orangtua lah yang biasa menjadi pihak pertama yang mencurigai bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Karena menemukan:

Anaknya itu sudah cukup umur untuk berbicara, tetapi nyatanya tidak/belum
Tampak tidak tertarik pada orang-orang yang ada disekelilingnya atau
Menampilkan perilaku tidak lazim, seperti pada umumnya anak-anak.

Tetapi simtom tersebut tidak melulu ditimbulkan dari autism, dapat saja timbul karena sebab-sebab penyakit autisme lain. Misal, anak yang mengalami problem pada pendengaran mereka, biasanya akan mengembangkan kemampuan untuk sulit berbicara. Biasnya dokter akan melakukan tes laboratorium dan tes medis standar pada anak-anak suspect autism- tetapi tindakan ini lebih dimaksudkan bahwa simtom yang ditampilkannya tidak berhubungan dengan problem medical lainnya.

Tes-tes medical yang biasa dilakukan mencakup :

  1. Pemeriksaan darah dan urine
  2. Pemeriksaan pendengaran
  3. EEEG (tes untuk mengukur gelombang otak) dan
  4. MRI ( gambar yang menunjukkan struktur otak)
  5. Terkadang dilakukan juga tes kecerdasan (IQ).

Biasanya para speesialis bekerja sama dalam sebuah tim untuk mencari tahu apa yang terjadi. Dalam tim tersebut dapat dilibatkan :

  • Dokter anak
  • Neurolog pediatric
  • Dokter ahli perkembangan anak
  • Psikiater anak
  • Psikolog anak
  • Terapis bicara dan bahasa
  • Dan lain-lain.

Penggolongan Anak Autis

Dalam berinteraksi sosial, anak autisme di kelompokkan menjadi beberapa kelompok :

1. Menyendiri

  • Terlihat menghindari kontak fisik dengan lingkungannya. Meskipun bisa saja pada awalnya kelihatan biasa dan nyaman bermain dengan teman sebayanya, tapi hal ini hanya terjadi dalam waktu yang singkat. Setelah beberapa saat mengalami kontak fisik, beralih ke permainan lain karena sangat tidak mampu menciptakan pergaulan yang akrab. Perangai anak yang kelihatannya tidak mempunyai cacat ini membuat orang tuanya sangat tidak memahami, dan sangat menyakitkan hati.
  • Bertendensi kurang menggunakan kata-kata, dan kadang-kadang sulit berubah meskipun usianya bertambah lanjut. Dan, meskipun ada perubahan, mungkin hanya bisa mengucapkan beberapa patah kata yang sederhana saja.
  • Menghabiskan harinya berjam-jam untuk sendiri, dan jika berbuat sesuatu, melakukannya berulang-ulang.
    Sangat tergantung pada kegiatan sehari-hari yang rutin
  • Gangguan perilaku pada kelompok anak autisme ini, termasuk bunyi-bunyi aneh, gerakan tangan, tabiat yang mudah marah, melukai diri sendiri, menyerang teman bergaul, merusak dan menghancurkan mainan sendiri.

2. Kelompok Anak Autisme Pasif

  • Lebih bisa bertahan pada kontak fisik dan agak mampu bermain dengan kelompok teman bergaul dan sebaya, tetapi jarang sekali mencari teman sendiri
  • Mempunyai perbendaharaan kata yang lebih banyak meskipun masih agak terlambat bisa berbicara dibandingkan dengan anak yang sebaya
  • Kadang-kadang malah lebih cepat merangkai kata meskipun kadang-kadang pula di bumbui kata yang kurang dimengerti
  • Gangguan perilaku pada kelompok ini tidak seberat anak kelompok yang menyendiri

3. Kelompok Anak Autisme Aktif

  • Mampu bermain dan bersosialisasi dengan kelompok teman bergaul dan sebaya
  • Dalam berdialog, sering mengajukan pertanyaan dengan topik yang menarik, dan bila jawaban tidak memuaskan atau pertanyaannya dipotong, akan bereaksi sangat marah
  • Menegakkan diagnosa anak autisme kelompok ini kadang-kadang sulit, karena kenyataannya anak ini bisa bergaul dengan lingkungannya. Meskipun mungkin terbatas hanya di sekitar tempat tinggalnya, cara bersosialisasinya tetap kurang menggunakan asas memberi dan menerima (take and give) antar sesama teman bergaul

Gejala dari satu kelompok bisa saja terdapat pada kelompok lain pada saat tertentu, tergantung pada situasi yang berpengaruh di saat itu. Oleh karena itu tidak mudah menggolongkan kelompok anak autisme.  Pengobatan Autisme

Post Update :
Date : Friday, April 19, 2019 - Jumat, 19 April 2019