School Myopia

miopia

School Myopia

School Myopia. Saat ini jumlah anak penderita mata minus semakin banyak kebanyakan karena kebiasaan anak misalnya menonton tv terlalu dekat, baca sambil tiduran dan lain-lain. Mata minus sendiri terjadi karena kondisi organ bola mata lebih panjang dari ukuran normal, sehingga bayangan sinar tidak sampai tepat di pusat penglihatan (makula), melainkan jatuh di depan makula (viterus).

School myopia merupakan kondisi dimana faktor lingkungan berperan lebih besar dalam menyebabkan mata minus dibanding faktor genetik. Aktivitas anak-anak seperti belajar, membaca, menggambar, main game di komputer, semuanya merupakan aktivitas yang menggunakan jarak pandang dekat dan ini merupakan kondisi lingkungan berperan lebih besar dalam menyebebkan mata minus dibanding faktor genetik. Orang tua harus jeli dalam menghadapi permasalahan tersebut. Hal tersebut perlu disadari karena mata minus tinggi yang diderita sejak anak kecil beberapa diantaranya merupakan suatu sindroma, yang disertai dengan kelainan organ. Agar daya penglihatan anak tidak terus menurun, dibutuhkan kerjasama antara orang tua, guru, dan petugas medis (dokter/perawat) untuk menjaga mata anak. Minimal agar minus anak kita tidak bertambah.

Myopia atau minus mata dapat digolongkan kedalam beberapa jenis onset atau waktu timbulnya, yaitu antara lain :

  1. Congenita myopia, yaitu kondisi minus yang sudah terjadi saat lahir dan akan menetap hingga dewasa.
  2. School myopia, yaitu kondisi minus baru timbul pada masa kanak-kanak.
  3. Adult onset myopia, yaitu myopia dini pada dewasa terjadi pada rentang usia 20-40.
  4.  Kondisi keterlambatan myopia pada usia dewasa terjadi setelah usia 40.

Satu-satunya cara untuk mengatasinya adalah dengan mengoreksi bola mata agar bayangan jatuh tepat di makula. Caranya yaitu dengan memberikan lensa pembantu (minus). semakin terlalu panjang sumbu bola mata, semakin jauh bayangan jatuh dari retina, semakin besar minus bantuan yang dibutuhkan. Rabun jauh bukanlah penyakit, melainkan bawaan faktor keturunan. Namun ada juga yang tidak memiliki keturunan minus tetapi matanya mengalami gangguan penglihatan rabun jauh, hal tersebut disebabkan oleh lingkungan. Rabun jauh yang disebabkan karena faktor keturunan, artinya tipikal mata orang tua menurun pada anak. Jadi jangan langsung salahkan si anak karena ia menonton terlalu dekat, membaca ditempat dengan pencahayaan kurang, atau terlalu sering berada di depan layar komputer. Sebaiknya segera lakukan pemeriksaan ke dokter mata bila keluhan pandangan tak jelas keluar dari mulut anak.

Jika mata minus tidak memakai kacamata, khususnya minus tinggi lama kelamaan mata tidak terangsang untuk melihat. Kondisi ini sering disebut mata malas (lazy eye). Kondisi lazy eyes terjadi jika penglihatan tidak dapat maksimal walaupun sudah dikoreksi dengan cara terbaik, walaupun tidak ditemukan kelainan organ mata. Khusus untuk anak-anak sebaiknya gunakan kacamata dari plastik agar ringan dan hindari menggunakan lensa kontak, apalagi bila masih belum bisa menjaga kebersihannya sendiri.

Mata minus tidak bisa sembuh dengan sendirinya atau dengan obat-obatan. Mata minus tidak dapat berkurang dengan makanan tetapi dipengaruhi oleh pertumbuhan tubuh dan usia. Bagi orang dewasa mata minus dapat disembuhkan melalui teknologi lasik, namun tidak bagi anak sebelum usia 21 tahun dengan alasan pertumbuhan panjang bola mata pada usia tersebut masih berlangsung. Berikut cara mencegah agar mata minus pada anak tidak bertambah.

Pastikan anak memakai kacamatanya secara rutin. Gunakan kacamata dengan ukuran yang tepat, jangan under koreksi karena akan mempercepat pertambahan minus atau over koreksi karena akan membuat pusing.

  1. Jaga jarak baca 40-45 cm pada buku dan jaga jarak pandang 60 cm pada layar komputer.
  2. Selalu perhatikan sistem pencahayaan saat anak beraktivitas seperti membaca dan menonton TV. Pastikan pencahayaannya cukup dan akurat (tidak membelakangi sinar saat membaca.
  3. Cukup gizi dengan makan makanan yang sehat untuk mata.
  4. Lakukan aktivitas pemakaian daya penglihatan jarak dekat dan jauh secara bergantian. Misalnya, berhenti membaca setelah 45 menit, kemudian sekitar 5-10 menit pejamkan mata anda. Untuk menit berikutnya lihatlah ke arah yang jauh atau lakukan aktivitas yang tidak memerlukan daya penglihatan jarak dekat, sambil melakukan peregangan.
  5. Jangan lupa memperhatikan jadwal aktivitas anak. Sebaiknya anak harus memiliki aktivitas di luar sekolah yang lebih santai dan menyenangkan, contohnya aktivitas di dalam ruangan seperti les musik atau ikut klub olahraga. Aktivitas diluar ruangan dapat meningkatkan dopamin yang dapat mencegah pertambahan panjang bola mata.
  6. Lakukan pemeriksaan mata pada minus untuk memastikan minus yang diderita anak termasuk dalam golongan yang berbahaya atau termasuk dalam school myopia.
Post Update :
Date : Friday, April 26, 2019 - Jumat, 26 April 2019